578390_2959859606454_1859798116_n

SMALL PARADISE

Bismillah…

Subhanallah..Walhamdulillah..Wasyukrulillah..

Berbait puji dan syukur yang semestinya kita ungkapkan. Atas Setiap hembusan nafas yang murah Ia berikan. Atas setiap tapak yang mudah kita langkahkan. Atas setiap belaian kasih sayang orangtua. Atas sapaan dan gurauan seorang teman yang terikat dalam persahabatan.

Tulisan ini terinspirasi oleh beberapa potret event yang saya temui beberapa waktu silam. Sungguh merupakan waktu yang begitu berharga. Yang dengan event itu benar2 mengajarkan saya buaaaanyak hal. Terbesit bangga, kagum, namun tak lepas dari malu, menyayat hati.

 

Bagaimana tidak?

Potret pertama,

Sebuah potret yang membuat haru, yang hanya ada dalam satu sudut indah tersimpul.

“Hayya nad’ullah lishihati ukhtina….wa lii jamii’il maradh…”

Atau ..

“hayya nad’ullah linnajaah akhwatina min marhalati tsaalits al’aliy watsaanawiyy…”

 

Subhanallah..inilah indahnya! Dimana ada sebuah tempat, saat 1, 2, 3, atau 4 ,5 orang sakit, lalu didoakan oleh 1.200 SANTRI???dan dengan tambahan  jamii’il maradh??

Sebuah hal yang tidak pernah sebelumnya terbayang dalam benakku. Mendoakan seorang, 2 orang , beribu orang yang sakit serempak oleh 1.200 SANTRI, di tambah mendoakn kesuksesan kekhususan marhalah 3 Aliyah dan 3 Tsanawiyah?? Dan batin saya tertegun. Saat saya perhatikan, setiap kali Bid. Ruhiyyah atau Bid.Intelektual OSHK memulai dengan kata..

‘audzbillah…’saat memulai doa, semua santri bungkam dari obrolannya, berbalik kearah kiblat, dan menengadahkan tangannya. Hening seketika..Hati bergetar dan tersenyum tanda haru…Inilah pesonanya…

Image

Sungguh, ini adalah hal yang akan menjadi sebuah kerinduan.

Hati kita masing-masing dihuni cahaya, dan ruh-ruh disana telah saling melihat kilaunya..

Merasai pertemuan kembali yang lama dinanti, maka wahai para nurani, saling berlembutlah, karena kalian saling menguatkan, tentunya hanya dalam dekapan ukhuwah..

Potret Kedua,

Ini saat saya menyelesaikan ujian susulan pelajaran Matematika bab Integral. Sesaat setelah saya menyelesaikan angka2 indah itu, disusul dengan membantu seorang guru mengisi raport anak didiknya. Di ruangan itu ku temukan 4 ustadzah yang sedang menyelesaikan amanahnya. Ada yang mengutak-atik memeriksa nilai anak didiknya dalam layar computer, atau merapikan data2, ada juga istirahat sejenak. Di situ saya tak banyak bicara.  Hanya diam. Menikmati nama-nama yang saya tulis dan angka2 dlm raportnya.

Beberapa saat kemudian langit kelabu menggebu. Hanya kilatan petir dan gemercik hujan. Lalu menderas, dan membasahi lantai depan kantor guru MA dan MTs Pi. Tak lekang oleh waktu, inilah yang membuat saya kagum. What??

Saya baru teringat, tepat disamping kantor ini adalah hammam santri. Yang jika hujan dating mengguyuri, maka tank sampah (baca : Sepiteng) akan penuh. After that, saat saya asyik menulis bau semerbak  itu dating. SANGATTTTTT membuat sesak..Lumayan lama durasinya. Ini kotoran santri putri..1.200 mungkin??!!

Duh…Subhanallah saya kagum..

‘berarti setiap kali hujan datang, bau ini datang??’

Subhanallah..mungkin ini yang sempat tidak terpikirkan oleh kita. Bau kotoran santri acap kali hadir, memenuhi ruangan kantor ustadzaat MA dan MTs Pi. Yang di dalamnya ada banyak ustadzah dan juga ada yang sedang mengandung bayi.

Bah! Betapa buta mata hati kita..Hal ini menampar pelak hati saya, karena dengan kuatnya beliau-beliau menahan bau itu. Sepanjang hujan, bau itu masih terus lewat dalam rambut hidung saya…

Potret ketiga,

ehmm..mungkin lebih enak jika disimpulkan dengan potret kedua tadi. Namun ini berbeda event.

Ini adalah saat saya liqo dan membantu seorang ummi, sekaligus ibu guru, di rumahnya( sama juga….Mengisi raport).

“mi,  buatkan abi mie rebus..”

“Aa juga mi…”

Disusul setelah itu…

dede juga mau…” yang dimana saat itu beliau pun sedang mengisi raport

 

Suddenly..Tiiit Tiit..Handphonenya bergetar..tanda ada SMS masuk dalam inboxnya.

“Assalammu’alaikum. Sekedar mengingatkan kepada seluruh guru Madrasah Aliyah untuk berkumpul besok  ba’da ashar di Gedung Darul Arqam untuk rapat membahas…(kurang lebih sepert itu esensinya..)”

Haduuuuh…subhanallah nih bi…Besok ada liqa, belum lagi rapat evaluasi Pembinaan, mengisi raport, mengisi di Cabang Dakwah 3, ini datang lagi rapat MA..gimna nih bil?”sembari melirik saya dan hp dalam gengamannya. Seulas senyum pun saya sumbingkan sekedar member tanda saya memperhatikannya tanpa bisa memberi usulan.

Image

Subhanallah..Subhanallah…Subhanallah…

Rasanya mata ingin menangis. Dengan amanah yang begitu banyak, senyum masih para guru- guru simpulkan setiap kali bertemu. Mungkin ini salah satu yang tidak kita ketahui. Dibalik tenang dan ramahnya, ternyata ada sejuta amanah dipundaknya. Seorang istri bagi suaminya, ibu bagi anaknya, murabby bagi mutaraby-nya, guru bagi anak didiknya. Rabb…

“Ana ingat dulu bil. Saat ana masih sendiri (baca: belum menikah). Ana mengajar sampai ba’da dzuhur. Badan rasanya lelah.otomatis ana rebahan setelah dzuhur. Tidur sampai waktu Ashar datang. Sesaat setelah ana bangun dari tidur, piring kotor, baju kotor, itu bersih semua. Lantai sudah di pel. Subhanallah deh..ternyata itu kerjaan santri putri. Sengaja mereka masuk meski tanpa izin, karena ingn membrikan kejutan katanya. Itu yang sering ana rasakan dan dapatkn. Bukan hanya ana, hampir setiap ustadzah. Hatta ana menikah pun begitu. Halaman rumah rapi. Rumah rapi…”

 

Saya hanya diam menyimak sembari merenungi untaian curahan hatinya.

“Ada juga bil, dulu ana inget bgt. Ana bawa teko air untuk kamar ana yng dulu masih di BTN. Ana bawa teko, tiba-tiba seorang santri nyamper, ‘mw di bw kemana bu?udah biar sama ana ajh’katanya. Sekarang mah, ana ngepel haka Hall santri lewat cuek..hiihi..”tertawa kecil. Ada sindiran yang sebenarnya yang tersirat dan tersurat dibalik curahnnya itu.

Hmm…sebuah nasihat indah dalam curhatnya…

Subhanallah..Bangga dengan beliau-beliau itu. Pesona yang tidak bisa ditemukan di lain tempat.

“ya Allah nak…pendapatan guru ma’had ini segitu?? Ibu saja memberi pada pegawai ibu 2x lipatnya. Padahal jelas2 pengorbanan guru disini lebih dari mereka..Subhanallah sekali..”tukas seorang wali santri yang sempat saya dengar.

Yup! Maka pantaslah berbangga dan bersyukur.

Allah…saya hampir genap 4 tahun, namun belum berbakti pada mereka…

(Ternyata yang sangat membingkai memori guru2 kita adalah AKHLAK!! Bukan hanya prestise nilai, tpi juga indahnya akhlak..Itu yang menjadi inspirasi mereka…Kekuatan bagi mereka. Bahagia mereka dengan amanah anak didik yang seribu, mengenali beribu karakter dan keluhan, permasalahan, namun berbalik pula beribu perhatian dan senyuman juga untaian doa…Itulah mungkin sedikitnya komponen yang menguatkan mereka..)

Potret selanjutnya..

Event ini terinspirsi beberapa hari yang lalu. Saat saya menikmati ayat-ayatNya di depan kamar di pagi hari. Selepas kemarin, bersama beberapa santri yang tersisa kami membantu para pengurus asrama (baca : Walas dan teteh asrama) membersihkan kamar2 dan asrama. Sebenarnya, ada dumelan dalam hati. Karena malas dan sebagainya…

Sesaat ketika saya menikmati firmanNya berulang-ulang dalam bibir, sembari sesekali menikmati energen hangat dari gelas ARESTA 6 (hehe…). Datanglah sepasang lelaki, berkulit coklat sawo matang, lusuh dan kotor karena kegiatanya. Ada tong besar yang berat ditangan mereka, lalu baju yang dibelakangnya tertera Lingkungan Hidup. Mengangkut tong yng kotor untk ditukar dengan yg bersih.

Sesekali mereka pungut sampah yang bertebaran di sekitar tong depan kamar. Tanpa melirik kamar dan sekitarnya. Lalu diangkutlah tong yang penuh dengan sampah itu. Saya teringat. Ada 1.200 santri putri. Jikalau yang jajan ¼  dan satu orang satu sampah, berarti ada 300 sampah disitu. Entah itu basah atau kering. Jikalau yang jajan ½ nya, dan bukan satu sampah, melainkan 3, 4 , 5 sampah., ada berapa sampah didalamnya?? Belum lagi sampah yang busuk akibat hujan,atau bau karena tidak di keluarkan dari kamar sejak beberapa hari. Namun, dengan sahaja tangan-tangan itu memungutnya. Tanpa terlihat ada rasa jijik. Apalagi ditambah sampah dari 1.200 santri putra jga…

Tak lekang pula, terkadang mungkin tong itu jatuh saat melewati tangga. Dan pasti sampah itu terjatuh. Hufft…Tak jemu dan di sesali…di ‘rawu’ (baca; memungut ) sampah2 itu. Tanpa ada plastik atau sarung tangan yang melapisi tangan mereka. Semacam plastik hitamkah atau yang ringan pun tidak..

Rabbanaaa…Inilah yang tak terlintas dalam benak..Bahkan salah satunya melirik saya, dan saya pun masih berat dalm lisan, barang berucap terima kasih…Rabb…

Subhanallah…Subhanallah..

Sekitar kita memiliki puluhan ruangan, puluhan jiwa, memiliki seorang Ketua yayasan wara’ atas apapun (sekecil apapun), atau mudir yang zuhud dengan bunyi vespanya, Huda dan IT yang mengejar deadline majalah dan buletin untk dibaca, atau Div. LH, Div. Sarana dengan gedung yang akan dibangun, (dan divisi lainnya), lalu ustadz-ustadzah yang merangkap amanah atau pun tidak.

Subhanallah…Subhanallah…

Langit jingga Kuningan dan kokoh Ciremai menjadi saksi.

Dik, kawan, kak patutlah kita bersyukur dan berucap terima kasih. ..

Mungkin Slogan mahasiswa ITB boleh kita ikuti..

UNTUK DIRIKU, UNTUK BANGSAKU, DAN UNTUK ALMAMATERKU

If not us who else?? Yang kembali menjayakan… berbanggalah dan bersyukurlah kita..Lalu  tak lelah berdoa dan berkontribusi, khoss untuk ma’had kita…

Rabithah pagi dan sore untukmu…

Semoga bisa bermanfaat dan menginspirasi…

-Terinspirasi kuat saat 17 Muharram dan saat diskusi panjang di malam di lantai 2 alhusna 2 with Fauziah Andini P ( MIPA ITB) feat. Dewi Sofiah (KetOSHK Pi 15) dan ‘Aisyah Sa’diyyah (Kabid. Lughoh 15)-Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s