Challenge!

Curhat?? Oh bukan, Ini hanya sekedar berbagi cerita saja.

Dulu aku terkenal dengan badanku yang sangat amatlah imut nan kecil (meski hingga kini tinggiku pun tidak seperti para model lainnya, hha).Dengan weigth yang 16 kg! itu dulu saat aku kelas 3 SD (nama SDku SDIT Luqmanul Hakim). Tinggi badan yang, uh sama juga. Tidak tinggi. Kecil sekali. Bahkan dulu, teman-teman cowokku sempat mengejekku dengan sebutan ‘bonsai’. Heu!

Di awal Cawu genap ( smester genap istilah skarang), ada berita mengagetkanku. Dokter umum memvonisku harus jalani operasi kecil. What??? Aku sendiri pada awalnya tak mengerti kenapa dan apa sebabnya. Ternyata aku mengalami penyakit Hernia. Sempat ummi dan abi kaget. Sebab penyakit itu hanya sering diderita oleh kaum Adam. Apa itu berarti aku terlahir sebagai jenis kelamin Pria?? Oh, tentu saja tidak. Aku tetap normal. Sebagai Hawa.

Teliti punya teliti, selidik dalam selidik. Reason why i got that. Ternyata ada faktor keterunan. Paman dari abi, kakak pertama abi ku pun mengalaminya. Jadilah aku lewati operasi itu. Bulan Januari. Ingat sekali.

Jam delapan pagi hari Kamis, aku memasuki ruangan operasi. Cowok semua!! Hanya ada dua ceweknya. Oh, My Lord. Bismillah aja deh. Operasi berjalan, sampai pada pukul 12.00 operasi itu selesai.

Kedua kelopak mata aku buka perlahan, menangis kesakitan. Perih niaaaan. Tapi yang keluar dari lisanku adalah kata “ummi….” Hingga akhirnya, para perawat itu membawaku keluar, tepat sekali. Ummi selalu ada. Ummi yang menyambutku pertama.

Mi, kerudung. kerudung mi…”isakku. Saat operasi memang kain hijabku lepas.

“Proses operasi kecil pertama kali ini seperti waktu aku lahir.” –kata ummi.

“Loh, memang kenapa mi?”

“Saat ummi melahirkanmu, abi sedang ngisi pengajian. Dakwah,, Sekarang pun begitu. Tapi sekarang banyak ami-ami dan amah -amah yang disini..” aku tersenyum.Image

Awal bulan Januari aku kenal dengan dunia operasi, akhirnya mengendap di rumah sakit selama lima hari. Berdatangan teman-teman dan kawan-kawan umi abi. Akhir Januari aku mencoba masuk ke sekolah. Dan ternyata, teman-teman sudah menyiapkan birthday cake untukku, Wah, so sweet. MashaAllah, indah nian ukhuwah ini..

Kelas 4, ada perekrutan anggota baru Pasukan Biru Khusus. Yaa bisa disebut Paskibra. Sedikit minder, bisa gak yaaa?

Dengan notabane, aku baru selesai di operasi setahun lalu. Hm, coba aja. Dari camping ke camping. Dari outbond ke outbond. Aku pun tumbang saat malam api unggun yang cukup mencengangkan. Dimana saat itu aku dikerjain sama guru-guru. Karena malam sebelumnya, kata’nya, aku sebagai ketua kelompok gak bener mengkoordnir anggota. Hufft.. (simak ceritaku selanjutnya :D)

Ternyata itu hanya akal-akalan guru-guru. alhamdulillah ‘ala kulli haaal.Hal itu ternyata mengantarkanku menjadi anggota Pasukan Biru Khusus.

Image

Yap! Begitulah. Badanku kecil, tapi aku berpikir bagaimana caranya mencuri banyak hati, mencuri rahmatNya lewat setiap usahaku. Agar bisa kukatakan, bahwa aku sangat mencintaiNya, yang tidak sia-sia menciptakanku.

Memasuki zaman SMP. Alur studi ku masih sama Di SMPIT Baitul Anshor. Boarding School, asrama. Meski pulang setiap sebulan sekali. Si zaman SMP ini aku tidak melanjutkan Paskibraku, hanya saja menelisik kedalam dunia persilatan. Thifan Po Khan. Ini silat islami katanya. Acap kali memang aku amati, dirumahku penuh dengan para aktivis dakwah, ustadz-ustadz berlatih Thifan hingga larut. Diiringi dengan Mabit, Muhasabah, dan setoran hafalan quran. Aku iri. Sebab itu aku mencoba berlatih ilmu itu. Sayangnya , guruku ikhwan. Jadi tidak bebas. akhirnya di waktu lain, mulailah belajar meski intip mengitip kepada seorang guru akhwatku. Uh! Tegas nian. Itu Jiwa mujahidah! Keren! Shalihah, pintar, namun juga bugar.

Jelas kaum wanita perlu ilmu silat. Bagaimana tidak? Bukan hanya kaum pria. Meski hakikatnya yang melindungi kaum wanita adalah pria, bagaimana kiranya disuatu tempat, waktu sepi tak ada kaum pria, wanita perlu membela diri? Exactly!

Berbekalah aku ilmu itu (meski sekarang luntur). Hingga akhirnya, disuatu camping, hebat nian! Aku dan beberapa kawan di temani guru mampu berjalan digelap tengah malam, dari Cimahi ke Padalarang, dengan kondisi mata trtutup. Tidur!!! Haha.. Bur, it was amazing,guy! Dengan perbekalan camping di ransel. Hebat bukan??

Pengalaman-pengalaman itu yang membuatku bersemangat. Kenalanlah aku dengan sekolah berbasis Tarbiyah dan Dakwah. Husnul Khotimah. Tepatnya hari Kamis, disaat masih bau santri baru. Dihadapkan dengan pasukan memakai baju biru, ada yang dengan tongkat bambunya, ada juga tegap ditengah terik matahari lapang panas. Apa ini???

KEPANDUAN!!! Dengan semangat menggebu-gebu, aku bertekad mengikutinya.

Jangan kalian kira, terutama santri baru. Untuk menjadi anggota para Kepanduan ini, sungguh sangatlah berat. “papar pembina.

Semangat 45 ada dalam raga. Dari satu seleksi ke seleksi lain.

eh, dari santri i’dad yang baru kan cuma dipilih 2 orang..”

Ah! Harapan itu selalu ada. Ternyata banyak dari kawan-kawanku yang mengundurkan diri. Bagaimana tidak?? Setiap dipanggil panitia push up, dan bending macamnya. Berapa? Tak ku hitung banyaknya.

Hingga akhirnya, di akhir seleksi. Tahap- tahap ini aku fahami seperti waktu menjelang Paskibra dulu. Penuh dengan bentakkan dan tantangan lainnya.

Ini lebih ekstrim. Dari rafting, spider web yang tingginya mashaAllah, two line bridge yang mengacu ardenalinnya gila-gilaan.

Image Aku dan ziya, sahabatku. Puncak pendakian, tahun 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s