images

Meminang Syahidah

“Assalammu’laiakum..” Seseorang mengetuk pintu.

“Syahidah, bisa tolong bukakan pintu? Ummah sedang didapur.”perintah Ummah.

Syahidah bergegas membuka pintu. Berlari menujunya. Letak yang tidak jauh, hanya saja ia perlu menuruni anak tangga.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh..”Syahidah menjawab tercengang. Hasan?? Dan, keluarganya? Ada apa?

“MashaAllah, yaa Syahidah apa Ummah dan Abimu sedang dirumah?”tanya Dr.Abdullah Syathiri. Ayahada Hasan.

“Alhamdulillah, sedang ada dirumah. Sllahkan masuk. Saya panggilkan Ummah dan Abi.”mempersilakan.

Bangunan rumah yang tak besar. Hanya cukup dihuni oleh satu kepala keluarga dengan dua anak. Bangunan yang hanya terdiri dari dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur, ruang tamu dan ruang makan digabung. Ini termasuklah sangat mewah. Bagi para muslim Gaza.

Yaseer Mukhtar. Termasuk tokoh yang sangat disegani oleh muslim Gaza. Sang istri Ummu Hanny pun sama terhormatnya. Keluarga Yaseer dikenal sebagai keluarga pemurah. Terlebih Syahidah seorang dokter lulusan Mesir. Dengan sengaja Yaseer dan Ummu Hanny mengirim Syahidah menimba ilmu di Mesir. Yang semestinya Syahidah berada di lingkungan Gaza. Yaseer dan Ummu Hanny bertekad Syahidah membaktikannya untuk Sang Negara Merah Saga.

Ada apa keluarga Hasan kemari? Ada hal penting apakah?

“Ahlaan Yaa Abu Hasan. Apa kabarnya? Gerangan apa yang membawamu kemari?”sambut Yaseer.

“Marhab yaa Yaseer. Sejak kapan kau tiba di Gaza?Bagaimana studi Syahidah. Barakallahu fiikum, keluarga ini lengkap sekali dengan resmi dokter-nya.” Dr. Abdullah gembira.

“Min Fadhlillah, sebulan yang lalu Syahidah ujian dan resmilah ia kini menjadi dokter. Kembali kesini untk baktikkan pada negerinya..”papar Yaseer.

“Allah memberkatinya.”Hasan berdoa.

Pemuda dambaan gadis Gaza. Hasan Al-Banna. Mujahid Mesir yang masyhur itu? Ya. Itu namanya. Hasan terlahir saat Sang Pemusar Gelombang itu dibunuh oleh para rezim munafiq itu. Hasan Al-Banna, jangan tanya hafalan quran dan haditsnya. Dia sudah peroleh sanad qira’ah sab’ah meski dalam kondisi mencekam.Hasan karap kali meluluh lantakkan bumi para zionis dengan jiwa beraninya. Tak terhitung keluar-masuk sel. Sebab itu pula, ketaqwaan dan kerinduan wajah Allah,duduk bersanding dengan Rasulullah SAW ghoyah berniali lebih dari permata. Hasan dan Syahidah. Tepatnya mereka teman satu sekolah. Syahidah menyelami ilmu kedoteran, pun Hasan mengembara ilmu quran.

***

“MashaAllah.Kamu serius, Syah??” Fathimah, kawan karib Syahidah kaget bukan main.

“Aku serius, Fat! Sore tadi keluarganya datang..”

“Bahagialah kau Syahidah. Hasan bukan main pesonanya pemuda itu.” Fathimah menepu-nepuk. Senyum bahagianya tersimpul.

“Ya. Aku bersyukur pada Allah, Hasan datang sangat takku duga-duga.”

“Wahai Putri Yaseer, maafkan aku. Ada hal yang mau aku tanyakan..”pinta Fathimah.

“Silahkan sahabat..”

“ Semoga Allah merahmati pernikahan kalian nanti. Hingga akhir nanti..”doa Fathimah.

“Amin. Ada apa, wahai Fathimah?”

“Hingga nanti apapun keadaan yang kau terima kau akan tetap bersama Hasan?”

“Ya. Tentu saja. Dengan izin Allah tentunya..”

“Sore disaat Hasan meminangmu, apakah dia ceritakan tentang jihadnya esok?”

Syahidah tersenyum manis.

“Tentu saja.”

“Lalu?” Fathimah terheran-heran.

“Lalu,kenapa? Apa yang membuatku ragu menjadi istri seorang yang berdampingan dengan rasul nanti? Apa yang membuatku takut kehilangannya?”tegas Syahidah.

Allahu yarhamukum..” Fathimah mendoakan seraya memeluk erat gadis Hasan. Syahidah membalas doa dan pelukannya.

***

Allah,Rabbku..

Walimah ini akan terasa sangat singkat. Mencumbu cinta insanMu begitu indah akan kurasa. Mencuri cinta insan mulia pujaan para wanita. Lalu, bagaimana aku bisa menjadi bidadari baginya? Sedang hanya batas satu langit malam?

Perkenankan sabarku..

Berdatangan tamu padati rumah Syahidah. Hiasan Walimah ‘Ursy yang sederhana namun manis. Keelokkan bunga bercorak ungu muda dengan kain putih, menjadi latar rumah akad Hasan dan Syahidah. Tabur bintang, masa-masa sunyi dari zionis yang terlelap wangi dunia. Entah nikmat apa yang mereka nikmati kini. Bergelimang khamr,wanita-wanita jalang, macam harta lainnya.

Tiga puluh Juz riwayat Hafs pun menjadi mahar terindah bagi Syahidah.Tak elak, air mata berderai. Bahagia? Tentu saja Syahidah bahagia. Di bawah bayang-bayang kesyuhadaan Hasan esok hari, menjadi episode terberat bagi banyak wanita Palestina. Uji ikhlasnya.

Riuh doa dan shalawat menaungi.Ucapan selamat sudut suka cita sanak saudara dan kawan dekat. Tak ada tabuhan lagu, pun dendang musik. Syahdu dan khusyu doa kebahagian adalah musiknya.Teranglah Gaza, berbagi bahagia. Mimpi indah bertabur bintang tenang ditengah gegap=gempita merah saga Palestina. Sudut lain berlarian adik-adik Hasan. Lugu, dan polos.  Syahidah mengecup mereka satu persatu. Hasan meliriknya dan memberi senyuman.

***

“Assalammu’alaikum..”salam Hasan.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah..”Syahidah menjawab tersipu malu.

Tak berkedip. Hasan menatapnya penuh dengan kasih. Masih dengan gamis putih berjilbab. Sangat sederhana, tanpa hiasan sedikitpun permata payet atau bordir. Namun, desain yang begitu dewasa. Feminim terpancar getarkan jiwa Hasan. Aura bidadari mengisyaratkan pertemuan abadi di surga. Pinar mata Syahidah menyihir jiwa Hasan. Bertasbihlah ia pada Sang Pencipta. Menatapnya tak kunjung akhir. Ada ketenangan meski hanya mampu menyentuh mata birunya.

“Syah, saya ingin menghadap Allah yang telah memberi begitu banyak nikmat dan kebaikan kepada saya dan keluarga, dalam keadaan sudah sempurna agama.”

“Ya, saya mengerti…”

Hasan dan Syahidah masih saling bertatapan. Saling menyunggingkan senyum. Wajah Syahidah yang mampu membombardir jiwa Hasan, ratuku, bidadariku. Kata-kata yang terus berulang bergemuruh dalam jiwa Hasan.

“Syah, saya meninggalkanmu bukan karena saya tidak mencintaimu dan menghormatimu..”

Retina Syahidah meluruh. Menunggu lisan kemudian yang keluar dari Hasan,Senyumnya menyurut. Ketajaman tatapan semakin membuat Syahidah tak sabar menunggu kalimat selanjutnya.  Hasan menemukan keteduhan dan ketenangan melebur menjadi satu. Ini malam pertama dan terakhir bagi mereka.

“Tapi, saya yakin. Syah, akan mendapatkan suami yang lebih baik dari saya..” kecupannya mendarat di dahi Syahidah yang masih tersenyum. Andai saja aku bisa ceritakan padamu.

“Biarkan saya berbakti sepenuhnya padamu, Hasan.”

***

“Yaseer! Hasan! Ummu Hanny!!!”

Ini masih sangat larut. Hasan terkaget-kaget mendengar pintu di gedor-gedor dengan kencang.Kerumunan orang-orang semakin lama semakin memadati rumah. Ada apa?

“ Syahidah mendahuluimu. Tidakkah kau dengar ledakkan tadi? Semalam banyak anak-anak terluka parah. Syahidah bergegas mengobatinya…” papar para tetangga.

“ Selepas mengobati, ia pergi menuju para zionis dan meledakkan tubuhnya!”

Hasan tercengang. Ratuku mendahuluiku…

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s