tumblr_m9rkmwAovJ1qd02v7o1_500

Napas Rindu Berjarak Waktu Denganmu

Ini sedikit refleksi 15 hari perjalanan kemarin. Mengejutkan, membahagiakan, menentramkan. *meski sedikit ada kegalauan. Semoga Allah berikan ketentraman. wasaa ri’u ilaa maghfiratimmirrabikum..
InshaAllah, dengan izinNya, adalah Ia yg selalu memberikan ketenangan.

Saat pertama menginjak tanah anbiya, ‘Kota Cahaya’. Tandus, kering, panas hingga pori-pori. Tak ku temukan lahan hijau, ataupun tanah hitam kecoklat-coklatan. Yang ku temui justru pasir dan batu. Ditambabh dengan udara kering berdebu yang menusuk buku hidung. Lalu berdiri tegak gedung-gedung tinggi tanpa genteng, seperti halnya di negeri Bhineka Tunggal Ika. Berjejer panjang ruko2 menjajakan dagangannya, buah tangan saat kembali. Sepanjang trotoar pun ku temui, ummahat dan gadis2 arab, Irankah dia atapun Turki, atau Iraq, Syiria, aku tak begitu tahu. Sebab mereka mengenakan Burqah dan Niqab. Hanya membaca dari pinar bola mata yang indah. Ada biru, coklat, hijau pun ada. Di tambah dengan kuitnya yg putih , hidung yang mancung. Pantas lah banyak kaum Adam yang tersihir dengan pesonanya.
Hati tak bisa ungkap apa pun, bahagia nian bisa melaksanakn shalat Fardhu Maghrib di Nabawi. Melihat dengan gagahnya bangunan, dan mengingat pahalah yg dijanjikan. Rabb, tumpah ruah lah semua air mata. Hati berguncang keras. Ku haturkan semua terima kasih ku padaNya. Ku sampaikan harapku padaNya. Betapa indah dirasa. Sesaat setelah itu, disampingku masih tersungkur Ibunda tersayang. Sembari menunggu beliau, ku lihat sekitar Nabawi. Sungguh! Berkumpulah jutaan ummat islam disini.

Mencoba masuk lebih dalam. Merasakan keindahannya. Cahaya terang benderang disana sini. Setiap sisi penuh dengan cahaya. Di sambutlah dengan air zam-zam yang tertata rapi dalam tongnya. Siap untuk menyegarkan jiwa yang kering. Mencoba meresapi setiap tegukannya.
Merasakan bahwa ia, zam- zam menyambut kehadiranku…
Memberikan slam padaku..

Tahukah, bahwa segala yang ada di alam ini adalah siklus? Pernahkah merenunginya?
Waktu adalah siklus, kehidupan juga kematian, sebab dan akibat, sampai daur karbon, udara, dan ;air.

Sejak dulu, air adalah air. Air yang sama. Dia tak pernah raib, musnah, ataupun hilang. Hanya tergantikan. Hanya mengikuti titahNya. Dia mengikuti arus siklusnya. Dia menguap, lalu berkondensasi, akhirnya berevaporasi . Menjalani tugasnya mengitari bumi dan langit, sejak pertama kali ia diciptakan dan entah sampai kapan.

Seteguk, demi teguk kucoba renungi. Zam- zam yang ku minum langsung di tanah para nabi. Kota Cahaya. Ah, rasanya ingin ku kembali kesana. Bersama keluarga, guru- guru, teman- teman.

Mengingat siklus ai #dri zam zam yg kurindur. Ini nasihat dari sahabatku, yang sering berlama – lama bermain air. Saat wudhukah, minum, ataukah menatap hujan lama lama, bahkan terkadang mebiarkan mebasahi tangannya (* hobi-nya menatap hujn lama2 sdg hobi saya membasahi kepala dengan air terjun, merasakan desahan airnya. Bahkan terkadang sambil teriak2 kegirangan. ) Karena barangkali salah satu dari jutaan tetes air hujan itu adalah air yang terpancar dari tanah sesaat setelah di hentakkan oleh kaki Nabi Ismail as. Bisa jadi air yang kita gunakan adalah air yang juga dipakai Rasulullah Saw tercinta lebih dari berabad – abad yang lalu. Terkadang mudah menangis, membayangkan air yang diminum pun adalah air yang sama , saat diminum para Ahlul Badar ( yang mereka telah dijanjikan syurga) dari bi’run (baca ; sumur) yang dibuat oleh Rasulullah SAW.

Inilah! Dengan memahami alam yang Allah ciptakan, merenunginya, mentadaburi ayat ayat KauniyahNya, seperti yang Allah sampaikan dalam banyak Quran cintaNya, dengan mudah kita mengingat sosok- sok yang kita cinta, sosok- sosok yang tidak pernah kita temui, yang terpisah bukan hanya berbatas tempat, tapi juga berbatas waktu terhalang dan termakan oleh rayap zaman. Mereka sosok- sosok yang tidak pernah tahu wujudnya seperti apa, ulas senyumnya, suara indahnya, paras wajahnya, sapaan hangatnya. Dan kita merindukan setengah mati.

Bahkan air mata, saat ia menggenang di pelupuk, lalu turun perlahan membasahi kedua belah pipi, sempatkanlah bertanya ..:

Apakah dia, si air mata, yang juga pernah luruh di kedua mata Umar RA saat menyesali masa jahilinya?
Apakah dia, si air mata, yang juga jatuh di pipi Abu Bakar RA saat ia mengimami shalat,membaca al- fathihah yang tak kunjung usai karena tangisannya?
Apakah dia, si air mata yang juga menemani Ali RA saat Fathimah RA wafat?
Apakah dia, air, adalah yang juga di bacakan doa, oleh jutaan kaum muslimin tiap detiknya, saat Thawaf di atasnya?
Apakah dia, aii, yang mengantarkan sang nabi saat tertelan Paus besar?
Apakah dia, air yng menjadi nasihat Thalut untuk pasukannya saat mereka berperang?
Apakah, dia, air, yang menguji keimanan saudara2 di Nangroe Aceh Darussalam sana 8 tahun yang lalu?

Apakah dia air yang sama?

Merasakan nikmat terindah dariNya, meresapi segalanya. Bahkan mungkin, malam dimana kita panjatkan doa pun adalah saat dmana sang Rasulullah mendoakan ummatnya. Saat ia menangis dalam suju, ruku’ lamanya. Mari,mencoba menghadirkan kekhusyuan dalam ibadah dan hidup kita.

(inspirasi : Fitri Karimah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s