562543_579349048742726_953034051_n

Aku Mau Jadi Srikandi Pena, Kamu?

Tiada puji dan syukur yang bersandar kepada selain-Nya. Tiada perjumpaan yang didamba selain perjumpaan dengan-Nya. Dan tiada harapan yang terwujudkan jika tidak dengan izin-Nya. Maka, Dialah yang memeluk harapan-harapan.

Yap! Syukurku pada-Nya. Dream Book di genggaman perlahan bercorak merah. Loh? Kenapa? Bahagia sungguh, meski hingga kini Dia masih rahasiakan perjalanan ilmu ku, tapi Dia beri jalan lain. Belajar dari para penulis. Sebulan lalu, wajah-wajah bersahaja itu bisa ku jumpai dan talaqi  kepenulisan dari mereka.

Topik Mulyana. Dosen Sastra Indonesia UNPAD, dan FLP Pusat. Dari mulai beliau jelaskan sejarah Bahasa Indonesia, sampai Sansakerta. Tentang traveling beliau dan keindahan bahasa pada bangsa.  Dan perjalanan beliau bagaimana menjadi seorang penulis. Padahal passionnya dahulu adalah Bahasa Arab!

Lalu, Irfan Hidayatullah. Kau, tahu beliau? Author of Sang Pemusar Gelombang. Buku tentang tokoh perubahan dan penggerak Ikhwanul Muslimin. Beliau panjang cerita tentang kepenulisan dan asbab-musababnya. Eks Leader FLP Bandung.

Kang Veejay. Nama asli beliau bukan itu. Hanya panggilan akrab. Dan yang dikagumi lagi, beliau menjadi penulis setelah berislam. Buku-bukunya banyak diterbitkan dan aktif di perfilman. Buku terakhirnya diterbitkan Republika pada sayembara setahun lalu. Dimana aku ‘terseleo’ didalamnya. Menjadi nominasi favorit. Karena juara pertama Pak Gegge.

Ada banyak nomik (Novel-komik) di rumah. Karya? Paling banyak Kang Ali . Ali Muakhir. Dari Olin serial pertama sampai terakhir.Buku laris jaman 2000-an.  Ada juga judul lain. Tersumbing senyumku. Dari yang hanya sekedar mention dibalas mention, ternyata bisa sampai share. Dan kata beliau, “FLP ini sempat denting. Ketika dinisbatkan bahwa ini organisasi penulis para kader PKS. Tapi, ini bukan organisasi partai.Ini full para penulis dan yang bergulat dibidang sastra. Ingat! Ini bukan organisasi partai. Sebab itu, dikepengurusan pusat ditekankan, bukan dari struktur partai manapun.” Hihi…

Cerita punya cerita, ada satu doaku pula pada-Nya. Bercerita-cerita dan meminta nasehat pada penulis fenomenal dan jilbab traveler. Bunda Asma. Bunda berbagi banyak tips menulis, bersama sang suami, Isa Alamsyah. Sebagian dari Komunitas Bisa, yang dikelola Bunda Asma dan suami juga Mas Agung Pribadi.

Bunda, “Apa yang kau suka dari karya saya? Sampai bertumpuk begini?”
“Bahasa yang ringan, dan satu bunda. Ketika saya baca buku-buku bunda, saya berpikir ‘ide-ide ini sebenarnya banyak bertaburan, cuma aku yang tidak jeli’ , bun..”

Bunda Asma tersenyum.

Bunda Asma, “Nabila, ingat tahun ini, tanggal ini, bulan ini. Dan nanti kau akan lihat tahun berapa kau sudah menjadi penulis. Jangan pernah takut dengan  e-book. Itu masih lama. Saya yakin, buku itu gakkan pernah habis. Menulis saja terus! Menulis dan menulis.

Tips Menulis 1 & 3

By Isa Alamsyah Full and Isa Alamsyah in Komunitas Bisa Menulis

Isa Alamsyah

Tip Menulis 1 Temukan Potongan Terbaik

Bercerita itu adalah kemampuan menemukan potongan terbaik sebuah peristiwa yang menarik bagi pembaca, pendengar atau penonton.Contohnya seperti ini.Kamu mengalami peristiwa penyanderaan di bis ketika menuju sekolah. Saat itu ada perampok yang dikejar polisi dan lari masuk bus dan menyandera seluruh penumpang termasuk kamu. Singkat cerita akhirnya kamu berhasil dibebaskan juga seluruh penumpang. Cukup seru kan pengalamannya?Lalu kamu sampai di sekolah dan bercerita pada teman-teman.“Eh tadi ada penyanderaan di bis gue?”Mendengar itu teman-teman kamu antusias dan mengerubungi kamu tak sabar mendengar cerita.Lalu kamu pun memulai cerita seperti ini.“Tadi gue naik bisa menuju sekolah. Gue memang selalu naik bisa ke sekolah karena bayarannya murah. Waktu nunggu bis, bis pertama penuhdan bis kedua juga penuh akhirnya gue naik bisa ketiga. Nah bis ketiga itu sebenarnya juga penuh, tapi masi mending dibanding pertama kedua. Di depan ada nenek nenek duduk dengan kakek-kakek, kayaknya sih suami istri. Hebat juga ya mereka sudah menikah lama masih berdampingan. Lalu di belangkangnya ada empat deret kursi yang diduduki anak-anak sekolah. Sempat mereka digerutui kondektur karena pada duduk manis padahal bayarnya setengah. Terus yang duduk di sebelah kanan…..”Sudah 15 menit berlalu dan kamu masih berkutat di bagaian yang sama sekali tidak dipedulikan teman-temanmu. Padahal kamu baru masuk ke bagian yang seru.Jika kamu bercerita seperti ini, apa yang akan terjadi?Mereka akan pergi karena ceritamu membosankan.Mereka menunggu inti cerita tapi tidak samapai-sampai lalu bel bernbunyi dan mereka masuk ke kelas dan tidak peduli lagi pada kisahmu.Bandingkan jika kamu bercerita langsung seperti ini“Tadi waktu gue naik bis, ada perampok masuk dan langsung menyandera semua penumpang, termasuk gue. Perampoknya ada empat. Satu pakai clurit, satu golok dan dua pakai pistol. Di luar polisi udang mengepung. Sialnya yang pakai clurit panic dan ngalungin clurit ke leher gue, nih lihat bekasnya.” (sambil menunjukkan bekas merah di leher).Itu adalah contoh dramatis, betapa seorang tidak mampu memilih mana bagian dari peristiwa yang menarik untuk di dengar atau dilihat.

Kemampuan memilih bagian yang penting dalam cerita merupakan kemampuan penting dalam bercerita.Nah kamu sering kan baca cerita yang di awalnya di awali angin berhembus, cuaca, dan berbagai hal yang bertele-tele.Kalau sekedar variasi gak apa, kalau kebanyakan bahaya.Saya dan istri (asma Nadia) serta anak-anak (Adam dan Putri Salsa) punya peraturan, namanya “30 menit pertama”. Kalau nonton film sudah 30 menit dan belum ada yang menarik kita keluar dari bioskop atau matikan DVD.Karena 30 menit pertama cukup menggambarkan fiml akan bagus atau tidak. Daripada kehilangan waktu 2 jam lebih baik mengorbankan 30 menit.Dalam cerpen juga begitu , kalau dua tiga paragraf pertama tidak menarik, cerpen akan diabaikan.Novel juga begitu, jika satu dua bab pertama tidak menarik, akan dilupakan. Jadi temukan potongan terbaik dari sebuah peristiwa dan jadikan itu sebagai cerita.

Tip Menulis 2: Sudut Pandang ‘Aku’ atau ‘Dia’

oleh Isa Alamsyah

Ketika menulis cerpen atau novel ada dua sudut pandang (point of view) yang paling lazim digunakan.

Pertama -aku (aku-an) atau -dia (dia-an = dia bisa juga nama)

Misalnya.

Aku berjanji tidak akan pernah mau bertemu lagi dengannya (Sudut pandang aku-an).

Lelaki itu berjanji tidak akan pernah mau bertemu lagi dengannya.(Sudut pandang dia-an).

Ryan berjanji tidak akan pernah mau bertemu lagi dengannya.(Sudut pandang dia-an).

Apa bedanya?Sama saja itu pilihan, tapi penggunaannya berbeda.

Ketika kita pakai aku-an maka imajinasi pengarang terbatas oleh keterbatasan aku.

Misalnya.

Kalimat 1

Aku berjanji tidak akan pernah mau bertemu lagi dengannya. Sudah ketiga kali gadis itu mengkhianati aku. Bahkan sebenarnya lebih dari itu, hanya saja aku tidak tahu.

Kalimat 2

Ryan berjanji tidak akan pernah mau bertemu lagi dengannya. Sudah ketiga kali gadis itu mengkhianati Ryan. Bahkan sebenarnya lebih dari itu, hanya saja Ryan tidak tahu.

Pada kalimat 1 ada pelanggaran sudut pandang. Kalimat —Bahkan sebenarnya lebih dari itu, hanya saja aku tidak tahu— ini tidak bisa dipakai karena tidak ada info darimana si aku tahu kalau lebih dari tiga kali. Informasinya bernilai 100% akurat padahal si aku tidak tahu. Aneh.

Pada kalimat 2 itu mungkin. —Bahkan sebenarnya lebih dari itu, hanya saja Ryan tidak tahu — karena kalimat itu adalah sudut pandang penulis (yang bertindak sebagai tuhan atas cerita). Jadi penulis tahu semuanya tidak ada batasannya.

Narasi itu jadi milik penulis bukan milik Ryan.

Ketika kita pakai dia-an, kita bisa baca pikiran hati semua orang yang ada dalam kisah, sedangkan kalau pakai aku kita hanya tahu suara hati sendiri.

Dengan segala keterbatasannya, kenapa banyak penulis pakai aku?Karena aku membuat pembaca seperti berperan dalam cerita.

Intinya dua-duanya bisa dipakai ada kelebihan dan kekurangan.

Tinggal bagaimana kita bisa memakainya.

 

(Bersambung dulu….)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s