0

Penakluk Kemustahilan |(قاهر المستحيل (1

“Kelumpuhan itu bukanlah kelumpuhan fisik, melainkan kelumpuhan iman dan akal…”Sh. Ammar Bugis

Kesekian kalinya saya menonton via Youtube banyak nasehat dari beliau. Syeikh Ammar Bugis. Pemuda asli Jeddah namun berdarah Indonesia. Mungkin bagi kebanyakan orang Ammar Bugis hanyalah seorang pemuda terlahir cacat. Dan hanya bisa menjalani hidupnya dengan akal dan lidahnya. Bahkan, dokter asal Amerika ada yang menyebutkan hidup beliau tak kurang dari dua tahun setelah lahir.

Rasa penasaran saya bermula saat salah satu kawan kenalan di Pare, Kampung Inggris menceritakan keharuannya mendengar dan hadir di Majelis Ust Yusuf Mansur, yang mana saat itu hadir pula Ammar Bugis. Selepas acara, kawan saya itu langsung mengirimkan foto-foto Ammar. Siapa dia ini sebenarnya?

Sebulan lalu, saya berkeliling tempat favorit. Islamic Book Fair, Landmark. Mata menggeliat banyak buku yang ingin dibaca, namun tak mampu dibeli. Niat awal menghadiri daurah Qira’at Sab’ah dan Jazari bertambah jadi keliling stand. Terhenti pada satu stand. Mengistirahatkan mata dengan melihat berbagai macam judul, masuk dalam list buku yang akan dibeli (tapi entah kapan). Terkejut saya dibuat, tertuju pada satu judul. “Penakluk Kemustahilan” karya Ammar Bugis. Wah! Ini harusku lahap, batinku. Tapi disisi lain ada juga buku ust. Felix Siauw yang belum saya baca dan miliki, ditambah ada buku Kang Abik juga. Allah. Galau deh…

Keliling-keliling lagi, ujung-ujungnya balik lagi ke tempat awal. Di temani teteh, akhirnya tanpa pikir panjang, sah-lah buku itu berpindah akad ke tangan saya. Dan dengan tulisan ini, saya ingin berbagi kebahagiaan dapat mampu mendengar kisahnya. Ya, membaca auto biografi ini seakan saya berbincang-bincang dengan beliau. Semoga Anda pun merasakannya istimewa dan terinspirasi darinya.

Semuanya Berawal Di Sini

Terlahir dari  keluarga berpendidikan di kota Madison, negara bagian Wisconsin, Amerika Serikat. Rabu 22 Oktober 1986 M / 19 Shafar 1407 H, di tengah suhu dingin di bawah titik nol yang menusuk tulang; saat hujan salju turun; Ammar lahir di sebuah rumah sakit tanpa kendala apapun. Terlebih beliau cucu laki-laki pertama dari sang nenek. Maka, sempurnalah kebahagiaan.

Belum genap satu tahun, kemampuan gerak tubuh beliau terus menurun sampai akhirnya sama sekali tidak bisa bergerak.  Setelah para dokter melakukan berbagai teknik diagnosa dan penelitian, ternyata Ammar menderita penyakit langka Werdning Hoffman. Pernah dengar? Belum? Saya juga baru tahu ada penyakit itu. Penyakit kelumpuhan total seluruh saraf yang menyebabkan hilangnya  kemampuan bergerak seluruh tubuh. Kau bayangkan saja, bagaimana sempitnya hidup jika seperti itu? Jika saya, atau saudaramu, mungkin dirimu? Apa perasaaanmu?

Ada dokter yang menyatakan bahwa Ammar hanya sampai usia 2 tahun. Sungguh, tumpah ruah tangisan keluarga.Tapi keluarga Ammar hanya bergantung pada Yang satu. Dan ternyata Ammar dan keluarga kembali kepada dokter itu saat usia Ammar genap delapan tahun,  Dokter hanya bisa diam tak berkata apa-apa. MashaAllah..

ammar4

Ammar, melewati masa kanak-kanak dengan susah payah. Ujian dari Allah tak hanya penyakit langka itu, tapi juga pada jantung dan paru-paru. Berkali-kali pulang  yang harus digunakan saat tidur seumur hidup. Itu belum termasuk kelumpuhan total yg beliau alami. Pernah suatu ketika, mendadak beliau sesak napas. Sang ibunda sekuat tenaga memberikan bantuan . Tapi, meski ibunda sudah tahu cara-cara yg diajarkan dokter sewaktu masih di Amerika (saat itu beliau dan keluarga sudah tinggal di Samir), tetap tidak bisa diatasi.
Satu detik, dua detik ibu menyadari bahwa nadi Syekh tak lagi berdenyut.  Dan Ibunda meraba dada, taka ada detak jantung Syeikh. Panik luar biasa. Di saat genting seperti itu, Allah selalu jadi penolong. Faris paman Syeikh datang, dan langsung memanggil ambulans yang kebetulan pula lewat rumah Syeikh! Kata sang supir, dia tak sengaja lewat daerah itu untuk mencari makan. MashaAllah….

Jika masa kecil kita seperti Syeikh, apa bayanganmu? Tidak bisa bermain seperti halnya yang lain. Hanya diam terduduk. Banyak sekali dari kawan-kawan masa kecilnya yang kerap kali menatap beliau penuh keheranan.

Disini memang posisi orangtuan menjadi faktor. Syeikh Ammar dibesarkan dengan lisan yang berani dan hati yang teguh. Dan peran orangtua beliau yang menagajarkan bagaimana mestinya bergaul.

“Kenapa engkau tidak bisa berjalan?”salah seorang teman.

“Kenapa engkau bisa berjalan?”jawab Ammar. “ Saya bisa berjalan karena Allah menciptakan saya dalam keadaan berjalan.”

“Begitu juga saya. Allah telah menciptakan saya dalam keadaan tidak bisa berjalan.”dengan penuh percaya diri. Laa hawlaa walaa quwwata illa billah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s