944558_10151655227186321_1012918647_n

Cinta Turki-Indonesia Untuk Syiria.

بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.
“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam”.[12]

” The believers in their mutual kindness,compassion & sympathy are just like one body ,when one of the limbs is afflicted ,the whole body responds to it with wakefulness & fever”
Narrated by: Al-Bukhari, Muslim & Ahmad

Inspirasi tulisan. Selalu bertaburan. Sejatinya, Allah SWT-lah yang anugerahkan. Dan kita bisa belajar dari siapa saja, kapan saja, dimana saja. Utamanya tentang kehidupan.

Berjalan, melihat dan menafsir. KIta, satu muslim. Agama sebenar-benarnya agama. Semulia-mulianya agama.

—————————————-

10 Dzulhijjah -11 Dzulhijjah 1434 H, Fatih Camii.

“Assalamu’alaikum warahmatullah…” terdengar Sang Imam menutup tahiyat akhir sholat Magrib kami dengan salam. Tiba-tiba pria paruh baya disebelah kananku langsung menjulurkan tangannya untuk bersalaman. Kusambut tangannya sambil tersenyum.

“Ah tidak biasanya orang orang Turki bersalaman setelah sholat usai, mungkin karena aku orang asing dan ingin berkenalan”, batinku.

Dalam keadaan masih menggenggam tanganku, ia berkata “ Turkish people dont shake hands after praying… Mereka akan merasa aneh apabila kita menawarkan salaman setelah sholat. Tetapi berbeda dengan orang-orang Suriah. Kami biasanya bersalaman setelah sholat. Ya, seperti yang kau ketahui, bukankah bersalaman itu baik bagi Muslim!”.

Terjawab sudah pertanyaanku, “Oh ternyata anda bukan orang Turki.” batinku.

“Pantas saja saya merasa aneh, karena tidak biasanya orang Turki menawarkan salaman setelah sholat. Saya dari Indonesia dan di Indonesia kami juga biasanya bersalaman setelah sholat”.

“Wah Indonesia! Jakarta?”

“Bukan, Bukan Jakarta. Saya dari pulau Kalimantan, satu  pulau dengan Malaysia dan Brunei Darussalam”.

“ Oh ya! Saya tahu itu. Apa yang kamu lakukan di Turki?

Dua orang anak laki-laki yang masih berumur sekitar 5 dan 7 tahun menghampiri dan menyimak percakapan kami. Aku pikir itu anaknya.

Aku pun melanjutkan percakapan , “Saya kuliah disini dan sudah 3 minggu berada di Turki”.

“Benarkah? Tentu kamu bisa bahasa turki?”

“Haha.. Tidak, saya hanya tau beberapa kata saja dalam bahasa Turki. Saya baru belajar bahasa Turki 2 minggu disini”.

“Kamu akan mahir nanti. Tahukah kamu? Sebelum menggunakan huruf Alfabet, bahasa Turki dan Indonesia dulunya menggunakan huruf-huruf Arab?”.

“Ya.. Anda benar. Anda tahu banyak juga tentang Indonesia”.

“Indonesia! Negeri yang indah. Kami di Suriah sedang berperang.  Doakan kami penduduk Suriah ya”, sambil menepuk pundakku ia beranjak menuju pintu keluar yang diikuti kedua anaknya.

Sebelum ia terlalu jauh, aku pun berkata ,“Senang bertemu dengan anda”, dan kemudian tersadar aku lupa menanyakan namanya.

Aku lanjutkan sholat Magribku dengan sholat sunnah ba’diyah. Selesai sholat, aku langsung menuju rak sepatu dan kudapati orang Suriah tadi mencari sepatunya bersama kedua anaknya.

Aku sampaikan salam kepadanya, ia pun membalas “ Wa’alaikumsalam my indonesian’s brother”.

Kesempatan ini tak kusia-siakan untuk menanyakan namanya, “Pak, siapa nama Anda? Saya Izhan”.

“Saya, Nasser, Abdul Nasser”.

“ Senang bertemu dengan Anda Pak Abdul Nasser. Dan apa yang Anda lakukan di Turki?”

“We escaped from war,” matanya pun berubah sendu menjawab pertanyaanku. Tersentak aku mendengarnya, iba.

“Saudara Indonesiaku, saya suka muslim Indonesia. Muslim Malaysia dan Muslim Filipina. Karena apa? Karena kalian adalah bukti bahwa Islam disebarkan dengan cara yang damai, dan akan mematahkan pendapat non-muslim bahwa Islam selalu disebarkan dengan perang dan pedang. Ya Izhan, kalian adalah cerminan Islam yang damai”. Ia menjelaskan.

Aku terkaget dengan pendapatnya, “Ya Anda benar, sebelum Islam datang kami menganut agama Hindu dan Budha, kemudian Islam datang melalui perdagangan dan pernikahan dengan penduduk setempat, sejak saat itu hingga kini penganut Islam di Indonesia telah mencapai 90% dari jumlah penduduk Indonesia”. Aku memnyetujuinya.

“Benar… Indonesia merupakan penduduk dengan muslim terbesar di dunia. Baiklah Izhan, saya tinggal di dekat sini, insyaAllah kita akan bertemu lagi. Semoga kuliahmu lancar dan Jangan lupa doakan kami penduduk Suriah. Salam’alaikum…”

Kujawab salamnya dan tersadar aku lupa berdoa untuk Suriah saat permintaan sebelumnya. Aku pun langsung mendoakannya dan saudara-saudara di Suriah.

———————————–

Mendengar kisah pendek Mas Izhan, kakak saya di Tanah Al-Fatih ini, hati berdegup kencang. Mata rasanya ingin turut hadir, saat Mas Izhan bertemu dengan ahlu Syam itu. Jiwa memang berada di Turki, tapi cinta dan kerinduan separuh ada pada tanah Syam (Palestina pun selalu).

Terima kasih inspirasi dan kisahnya Mas Izhan.

Allahu Yahmii bilaad Syam.. Dari Turki- Indonesia untuk Syiria, apa yang bisa kita beri? Sedang apa kita sekarang, sedang disana separuh jiwa kita tersiksa. Allah..

 

12 Dzulhijjah 1434 H, Istanbul- Turki.

 

2 thoughts on “Cinta Turki-Indonesia Untuk Syiria.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s