1240504_1391033811126965_1044736359_n

Wanita Di Matamu

“Berdirilah! “ Wanita itu memberi isyarat agar pria itu berdiri.

Neden?” seorang perempuan bertanya dengan keras.

Dengan tegas ia menjawab, “Di negara kami lelaki lebih mendahului kaum perempuan. Menghormati permpuan. Mereka akan berikan kursi kepada kaum perempuan.”

Begitulah..

Ustadzah Syifa Hasan Hitou, guru saya asal Suriah pun bercerita seperti itu. Di Suriah, kaum adam akan dengan sukarela memberikan kursinya di transportasi umum. Mereka tidak akan membiarkan kaum hawa berdiri. Begitu pun di Mesir. Dan wanita itu bercerita panjang lebar tentang negara dan  Islam disana yang sangat menghormati perempuan.

Bicara tentang wanita, Turki ini berwarna. Sama halnya dengan Indonesia, Mesir dan negara lainnya. Ada yang shalih, dan ada yang tidak. Dimana pun tempatnya, itu tergantung diri kita. Jelas memang di Mesir atau pun Suriah kaum Adam begitu menghormati Hawa. Selain karena budaya namun juga karena agama.

Ladies First. Pertama kali saya mendengar kalimat itu sewaktu mendalami Bahasa Inggris. Para pelajar disana seringkali berkata seperti itu. Apalagi mempersilakan untuk maju menjawab pertanyaan dan tantangan teacher. Dan ‘kalimat’ itu biasa digunakan orang barat yang pada awalnya adalah sebagai uji tes kelayakan suatu tempat.

Ladies first. Digunakan pertama kali saat suatu kelompok di sebuah negara yang  membuat gedung percobaan anti musibah. Lalu mereka mempersilakan kaum Hawa. Itu berarti membiarkan kaum Hawa yang celaka dan menerima keburukan terlebih dahulu? So, bagaimana menurutmu?

Negara yang terkenal sekuler dengan Presiden yang agamis ini sungguh unik. Suatu senja, seorang gadis Turki dengan pakaian yang senonoh berdiri di Tram (kereta). Sedang disana berada beberapa kaum Adam yang asyik berbincang dan terbahak-bahak. Tertawa dengan sesekali melihat gadis dengan pakaian senonoh. Apa yang mereka tertawakan?

Lain waktu lain cerita. Ini kisah kakak kelas saya, Mbak Dela. Sehari yang lalu (16/11/2013) terperangkap pada sebuah perjalanan. Tak tahu arah jalan pulang. Beliau mencoba bertanya dengan Bahasa Turki kepada seorang pria Turki yang sedang berbincang dengan kawannya (hipotesis saja).

“Oke. Saya akan bantu kamu.” Jawabnya. Kedua lelaki itu berjalan beriringan namun ditengah perjalanan mereka berpisah. Munculah berbagai kegalauan. Sebab Mbak Dela berjalan berdua dengan pria Turki yang tida dikenal. Beliau berjalan dibelakang pria tersebut. Namun sesekali pria tersebut berhenti menunggunya berjalan. Padahal sejatinya memang Mbak Dela tidak meu berjalan berdampingan. Dan pada akhirnya pria itu pun mengerti.

Menaiki Tram (kereta), pria itu pun mempersilakan Mbak Dela duduk , karena hanya ada satu kursi kosong. Tanpa bicara apapun. Saat kursi kosong, ia pun duduk tepat disamping Mbak Dela. Tanpa bicara. Sepanjang perjalanan dengan khusyu dia membaca buku tentang sejarah Ottoman, dan ada beberapa bercerita tentang ilmuwan muslim. Dan , finally pria itu pun mengantar Mbak Dela selamat dan tepat di halte akhir. Lalu ia kembali ke tujuan.  Bagaiaman menurutmu? Beginilah manusia tercipta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s